Rozald Sihombing’s Blog

kenangan

INDAHNYA KAMPUNG BAPAK KU

15 Juni 2009

Tahun 2005, saat meninjau kerjaan di Medan, saya sempatkan untuk mampir ke kampung almarhum bapak. Kebetulan uda (paman) saya meresmikan rumah barunya di sana.

Di sana saya diajak oleh salah seorang kerabat untuk mampir ke satu tempat rekreasi yang baru dibuka, di pedalaman (sekarang) kabupaten Humbang Hasundutan yang mengarah ke Danau Toba.

Saya sangat terkejut, karena walaupun jalan menuju ke sana lumayan jelek, berliku dan jauh masuk ke dalam; sesampainya di sana, ternyata tempat itu sangat menarik. Pemandangan alamnya sangat indah.

Tempat tersebut berada di ketinggian kaki pegunungan Bukit Barisan, dan langsung menghadap ke hamparan danau Toba yang indah. Ya, kaki tempat saya berpijak itu langsung terpotong oleh jurang yang cukup lebar dan terjal menuju ke pinggiran danau dari bebukitan.

Terlihat pulau Samosir di kejauhan. Sesekali beberapa kapal berseliweran, baik kapal pencari ikan maupun kapal angkut barang dan manusia. Ada sebuah pulau kecil diantara kami dan pulau Samosir. Awan putih seolah berada di bawah kaki kami. Indah sekali. Ah, sayang saya lupa nama tempat itu. Saya akan cari tahu..

Keberadaan tempat itu masih sangat seadanya. Tidak terlalu banyak orang yang berkunjung ke sana, hanya beberapa muda-mudi dan sekelompok penduduk lokal saja yang terlihat. Di sisi lain bukit terdapat pendopo tempat orang berteduh sambil menikmati pemandangan. Ada juga yang berjualan makanan dan minuman ringan. Seperti biasa, para penduduk lokal menarik perhatian dengan bernyanyi-nyanyi dan bercanda ria. Ah, merdu sekali suara mereka.

Seandainya saja tempat ini dikelola dengan baik. Infrastruktur jalan diperbaiki. Listrik, telpon dan fasilitas lainnya tersedia, apalagi jika ada kereta gantung menuju ke seberang danau, pasti akan sangat bagus dan indah.  Seandainya…

 

KEBERAGAMAN DALAM IBADAH

24 Oktober 2010

Sekitar tahun 1978, sewaktu SMP. Setiap minggu saya selalu ikut Amangboru dan Namboru saya bergereja di IKIP Bandung. Sebetulnya tidak dapat disebut gereja, karena sebenarnya itu hanyalah kebaktian hari minggu yang diadakan di ruangan auditorium kecil di lantai bawah gedung rektorat IKIP Bandung, yaitu gedung Isola yang sangat monumental itu. Kegiatan tersebut kalau tidak salah bernama Persekutuan Oikumene IKIP Bandung.

Saya senang sekali dengan kegiatan kebaktian itu. Karena sewaktu di Jakarta, yang saya tahu hanya kebaktian ala HKBP saja. Maklumlah, sedari sekolah minggu saya selalu beribadah di HKBP jalan Jambu, Menteng.

Sangat berbeda. Karena begitu beragamnya jemaat. Dari berbagai suku di Indonesia. Itulah pengalaman pertama saya yang paling berkesan mengenai keberagaman suku di Indonesia.

Ada satu hal yang tak bisa saya lupakan,  yaitu cukup banyaknya jemaat yang berasal dari Irian. Baik dari kalangan dosen, terutama mahasiswanya. Luar biasa. Karena saat itu saya berpikir orang Irian umumnya masih berpakaian ala Koteka dan masih berburu di hutan. Untunglah saya saat itu sudah menjadi penggemar beratnya Johanes Auri, Timo Kapissa dan Jimmy Pieters. Para pemain sepakbola handal Indonesia yang berasal dari Irian Jaya. Sehingga keterkejutan saya tidak berlangsung lama.

Tata cara ibadah kebaktiannya sangat berbeda dengan ibadah HKBP. Namun saya sangat menikmatinya. Yang saya ingat, setiap minggu kebaktian ini dipimpin oleh pendeta-pendeta yang berbeda yang berasal dari berbagai gereja di Bandung. Saya masih mengingat beberapa nama pendeta yang sering memberi kotbah disana, antara lain pendeta Dorothy Marx, pendeta Hutagalung, dan pendeta Sitompul dengan rambut gondrongnya. Ada satu pendeta yang saya lupa namanya. Orang Menado. Selalu datang dengan mobil Holden Special-nya. Perawakannya tinggi kurus. Wajahnya mirip dengan Martin Landau. Pemeran film Mission Impossible yang (mungkin) saat itu sedang diputar di TVRI.  Masih banyak pendeta lainnya, namun saya sudah lupa.

Jemaat persekutuan itu, yang mayoritas adalah dosen, karyawan dan mahasiswa IKIP Bandung, sebenarnya adalah jemaat-jemaat yang berasal dari berbagai gereja di Bandung, bahkan dari berbagai penjuru Indonesia. Amangboru dan Namboru saya sendiri pun adalah jemaat HKBP jalan Riau, Bandung. Namun untuk kepraktisan dan kekompakan  sesama sivitas akademika, kebaktian di persekutuan itu menjadi prioritas utama tampaknya. Jadi tak aneh kalau berbagai warna gereja pun hadir disana. Bahkan umat Katolik pun sering ikut beribadah.

Mengingat Bandung adalah kota pendidikan, ibadah persekutuan inipun sering diikuti oleh pelbagai mahasiswa maupun dosen universitas lain yang kebetulan bertempat tinggal di sekitar IKIP Bandung. Jadi jemaatnya banyak juga yang berasal dari ITB, Unpad, NHI, dllnya. Bahkan hampir setiap minggu kebaktian ini dikunjungi oleh jemaat tamu yang kebetulan sedang mendapat tugas belajar maupun pelatihan di Bandung. Tak heran kalau hampir setiap minggu kami kedatangan jemaat tamu dari instansi sekitar seperti Secapa Angkatan Darat, Sesko AU Lembang, Pendidikan Telkom Bandung, dan pelbagai instansi lainnya. Sungguh suatu keberagaman dalam arti yang sebenarnya. Saya sangat menikmatinya, dan saya sangat bersyukur dapat memiliki pengalaman tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: