Rozald Sihombing’s Blog

(sedikit) riwayat gue,

1038931074

Gue lahir di Bandung lebih dari empat puluh lima tahun yang lalu..

Gue terlahir dari seorang bokap yang adalah mantan perwira menengah angkatan darat, yang (katanya) ikut berperang, merebut, serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bokap berasal dari Huta Baris, Tapanuli Utara. Sebuah desa yang sangat terpencil dan udik, yang berada di dataran tinggi Bukit Barisan. Dia lahir  dari rahim ibunya-opung boru gue-boru Sinaga, dan ber-ayah-kan seorang pedagang yang cukup sukses di kampungnya. Menurut kabar yang gue sering dengar sedari kecil, opung doli gue itu adalah orang pertama yang mampu memiliki mobil dikampungnya, sayangnya dia mati muda, saat bokap berusia 18 tahun-an. (Sementara opung boru gue dikaruniani umur yang cukup lanjut, dia wafat tahun 1989 di usia  83 tahun). Walhasil sejak opung doli gue ‘pergi’, bokap menjadi anak yatim sekaligus menjadi tulang punggung keluarga bagi ibu dan adik-adiknya. (saat itu uda/paman gue yang bungsu bahkan masih bayi yang baru  saja dilahirkan!). Bokap gue sudah ‘nggak ada’ sejak  lebih dari dua puluh tahun yang lalu dan menempati ’kavling’ di Kalibata bersama-sama dengan beberapa (atau banyak?) teman dan (mungkin) musuh yang semasa hidupnya sering dia kritik dan kecam (gue tahu bener) yang sangat tidak dia sukai kelakuan dan prinsip hidupnya.

Gue kurang jelas apa yang dia alami dahulu di ketentaraan (denger-denger dia itu ikut kelompok BSH = Barisan Sakit Hati di ABRI), tapi yang pasti, waktu gue lulus SMA, gue dilarang keras ikut test AKABRI. Padahal waktu itu gue udah mulai mengurus persyaratan administrasi dan lain-lainnnya. Yang seru, waktu gue ngurus test kesehatan di Cimahi, petugas di situ masih kenal sama bokap…!!. (bokap pernah tugas di Bandung tahun 1962-1965).

Bokap gue orangnya sangat supel dan ramah. Sampai-sampai gue berpikir, apa benar dia bisa jadi tentara? Dan yang gue salut banget ….., temannya ada ’sejuta’ mek. Luar biasa. Gue inget, tiap kali keluarga  gue berpergian ke suatu tempat, pasti ada saja orang (entah siapa itu) yang  menegor dan ngobrol dengan dia, bahkan sambil tertawa terbahak-bahak. Yang paling asik adalah kalau ‘pertemuan’ itu terjadi di restauran/ rumah makan, sudah pasti ‘bill’ nya dibayarin duluan…!

Sementara nyokap gue lahir dan dibesarkan dari keluarga yang relatif ’elit’, Kakek atau ’opung’ gue adalah Administratur Hutan sejak jaman Belanda. Si Opung itu sangat ’Holland sprechen’ (mudah-mudahan tulisannya benar) dan disiplin. Orangnya jujur. Dengan posisi itu dia relatif nggak ninggalin warisan apa-apa buat om-om,  nyokap dan tante gue. Buku melulu. Gue bangga banget sama Opung gue itu. Satu lagi, Opung gue itu (kalo nggak salah) cucu terakhir dari Raja Salbe.

Nyokap gue badannya tinggi besar, cantik dan berkulit putih. Orangnya keras (keras banget malah..), namun hatinya sangat baik. Jiwanya sangat sosial dan tidak pernah berpikir-pikir untuk menolong orang. Asal dia ada, pasti dia kasih sama orang yang butuh pertolongan. Namun yang gue sesalin, kebaikannya ini sering sekali di’manfaat’kan orang, bahkan  oleh saudara-saudara nya sendiri.

Gue juga sangat mencintai dan mengagumi kedua orang tua gue itu.

Gue adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara yang terdiri tiga perempuan dan empat laki-laki. Dua di atas gue adalah perempuan. Oke, gue nggak akan melanggar privasi kakak dan adik gue. Gue nggak akan membahasnya.

Pendidikan SD gue jalanin di sebuah SD Kristen di Jakarta, lalu gue masuk SMP Katholik di Menteng dimana di kelas dua SMP gue tinggal kelas karena sering bolos dan (alhasil) sering nggak ikut ulangan. Gue nggak mau nyalahin siapa-siapa, tapi harus gue akui saat itu gue bandel banget. Keras kepala dan malas. Pokoknya nggak punya motivasi untuk sekolah lah. Faktor lingkungan? Mungkin.

Akhirnya gue pindah ke sebuah SMP Katholik di Bandung. Namun sebelumnya (ini nggak bakal gue bisa lupain), kepala sekolah SMP gue yang lama menawarkan bokap gue untuk ‘mereparasi’ raport gue agar bisa naik kelas di Bandung. Haah?. Bokap lalu memberikan gue kebebasan untuk menjawabnya. Gue menatap wajah bokap dan gue merasa bokap menginginkan jawaban yang ksatria dari gue, dan …. gue jawab: ‘nggak usah pak, biar gue ngulang kelas dua aja lah- ini semua kesalahan gue kok.” Kemudian gue ingat (banget) bokap menepuk-nepuk pundak gue sambil memberikan senyumnya yang khas dengan pandangan bangga.

Di Bandung, gue ikut namboru (tante) gue yang tinggal di sebuah perkampungan di Bandung Utara, di jalan Cidadap Hilir di daerah Ledeng, Bandung Utara. Namboru dan amangboru (paman) gue itu dua-duanya dosen di IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia). Kebetulan mereka nggak punya anak, dan emang gue deket banget sama mereka sedari kecil. Sekedar informasi, waktu bokap gue tugas di Bandung, namboru gue inilah yang ikut ngurusin gue sedari orok. Walaupun tinggal di asrama, tapi dia sering banget main ke rumah. Gue adalah keponakan favoritnya. Tahun 2004 namboru gue meninggal karena kanker payudara. Setahun kemudian, tahun 2005, amangboru gue menyusul. Wah, gue benar-benar sangat kehilangan mereka. Mereka adalah orang yang paling gue sayang selain kedua ortu gue..

Oh iya, sekitar tahun 1962-1965, keluarga gue tinggal di Bandung , tepatnya di jalan Sabar (dekat jalan Cipaganti). Nggak banyak yang bisa gue inget di situ. Sedikit yang terbayang adalah, rumah itu kecil, agak rendah dari jalan, dan tidak berpagar. Sekitar tahun 79 atau 80, baru gue sempet maen ke situ, ternyata bayangan dan ingatan gue tentang sosok rumah itu nggak terlalu meleset. Sekitar tahun 81-an rumah itu di lego bokap gue.

Tinggal di Bandung, gue harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, baik di sekolah maupun di rumah. Pun gue harus beradaptasi dengan dinginnya udara Bandung Utara (waktu itu Bandung masih dingin banget, di daerah Ledeng pula, brrrr……). Buat gue yang terbiasa hidup seenaknya dan sembarangan, bener-bener berat ngikutin disiplin mereka berdua. Terlebih amangboru gue adalah tipe manusia yang benar-benar strict, no compromise!!! Busyet dah!!!

Dengan didikan mereka itu, gue perlahan mulai bisa merasakan ‘nikmat’nya belajar, walaupun gaya santai gue nggak seratus persen bisa diberantas. Lumayanlah, kalau sebelumnya perbandingan belajar dan bermain adalah 0 dan 100, perlahan-lahan meningkat menjadi 20-80, 30-70, dan akhirnya menjadi 40-60. Terus terang, lebih dari itu kaya’nya mustahil lah. Ha ha ha …

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: