puisi..
(Dalam teriknya bumi)
Sajak nan gundah (untuk alamku..)
Terik..
Panas membara, membakar kuduk
sepoi angin, bahkan deru pun.. tiada membawa keteduhan..
terbayang suasana neraka bak nyata
Terik, amat terik..
Alam raya berdesah, berkeluh..
dalam diam dia berkata
dengan berkata dia nyatakan diam
Panas, terik alam, seolah bertutur..
Rimbun hutan terdiam dan terpupus
Habis tertelan nafsu dan serakah..
Seringai alam membakar raga..
terik.., mengganjar.
Kapan kita merdekakan alam?
Membiarkan rumput menjadi ilalang
Membiarkan ilalang menjadi hutan..
Hijau, hijau dan hijau..
Hapus terik dan dahaga itu
Bersahabat dengan raga,
dengan bumi yang tua ini
Membahagiakan semesta, alam dan manusia
Kembali ke kebahagiaan
yang dulu ada, dan dirasakan..
Kapan..?
Pondok Labu, Jakarta
Rabu, 16 September 2009
(Puisi berikut ini tecipta dalam kehampaan dan gundah hati..)
Manusia itu ibarat daun
pada saat dia hijau, dia akan memberi kesejukan dengan warnanya
dia memberi kesegaran dengan hawanya
dia memberi kelegaan dengan keharumannya
begitu kering,
hilang keindahaannya
sirna kesegarannya, dan tiada lagi keharumannya
hilang terbawa angin entah kemana
terus pergi dan pergi…tak berarti lagi
namun kita tak akan bisa lupa dengan apa yang telah diberikannya
apa yang dikorbannya..
bagi kehidupan!
hidup manusia seperti itu..
akan berlalu dan hilang, … maka buatlah supaya ‘berarti’
bagi kehidupan itu sendiri.
(God is watching us …., from the distance.)
Medio 2008
Sajak buat sahabat
Perjumpaan adalah awal dari perpisahan..
Perpisahan adalah awal buat perjumpaan lain..
Tiada berakhir, tiada habis…
Biarkan semua berlalu!
Selama hidup masih berlangsung..
Selama cita masih mengawang..
Pedih, suka dan duka adalah kenangan..
Menuju hidup dimasa depan…
Jangan…
Jangan bilang ‘selamat tinggal’ kawan!
Tugu, Puncak
Dari buku perpisahan kelas 3 B 2 SMA-9 Bandung
Kamis, 5 Mei 1983